Jakarta, Merdekaonlinetv.id – Kepala SKK Migas Djoko Siswanto secara resmi menutup Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026, Rabu (29/10/2026) sore, di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Menutup rangkaian dua hari yang dihadiri lebih dari 2.000 peserta, Djoko yang akrab disapa Djoksis menekankan FOREK bukan sekadar diskusi, tapi harus menghasilkan eksekusi.
Djoko juga melaporkan, bahwa selama FOREK 2026 terjadi penandatanganan penting yang telah disetujui Menko Hilirisasi/Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yakni, Alokasi gas pipa untuk Pupuk Indonesia, Alokasi LNG untuk PLN dan PGN dan Kontrak LNG ke BP Singapore dan Shell Singapore.
Hal ini, ungkap Djoko, sejalan dengan kebijakan pengurangan ekspor gas pipa ke Singapura sebesar 31 BBTUD (15 BBTUD Natuna dan 16 BBTUD Sumatra dari WK Jambi Merang) mulai 24 Oktober lalu, untuk dialihkan ke PLN Batam dan kebutuhan dalam negeri. Kebijakan tersebut sesuai Pasal 8 ayat (1) UU Migas yang memprioritaskan pemanfaatan gas bumi untuk kepentingan dalam negeri.
“Walaupun kita mengurangi sedikit volume gas pipa ke Singapura, ekspor kita tetap berjalan konsisten. Dan yang paling penting, alokasi domestik kita amankan,” katanya.
Djoko mengapresiasi penyelenggaraan Forek oleh PHE dan SKK Migas, terutama laporan Deputi Desti Melanti, yang berhasil dalam penyelenggaraan forum ini dan menjadi wadah kolaborasi pemerintah, KKKS, perbankan, dan investor.
“Jadi agenda utama kita tercapai di dalam penguatan daya saing investasi, penguatan komersialisasi, dan penguatan kemitraan pembiayaan. Ini modal untuk mengejar target investasi US$16 miliar dan penerimaan negara 109% di 2026,” tutup Djoko.
Dengan ditutupnya FOREK 2026, SKK Migas akan membawa rekomendasi forum ini untuk penyempurnaan kebijakan fiskal dan percepatan komersialisasi 279 temuan migas yang belum dikembangkan. (SR)

















