Jakarta, Merdekaonlinetv.id – Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ahmad Juwaini memberikan penjelasan terkait para pengorbanan para relawan kemanusiaan Indonesia dari Tim Dompet Dhuafa dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0, yang pada akhirnya disandera oleh IDF Israel.
Penjelasan tersebut disampaikan Ahmad Juwaini dalam konferensi pers bertagline “Kisah Pengorbanan Besar dalam Misi Kemanusiaan” di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026).
Menurut Ahmad Juwaini, kegiatan misi tim kemanusiaan Indonesia telah dipersiapkan dan dilepas di Barcelona, namun Dompet Dhuafa tidak mengirim relawan. Artinya, kata Ia, relawan tidak masuk kedalam kapal.
“Jadi di gelombang kedua dimulai, kegiatan Global sumud Flotilla 2.0 baru sejak rapat-rapatnya di bulan Januari 2026, Relawan kemanusiaan Dompet Dhuafa sudah terlibat dan sampai akhirnya kemudian diinventarisir relawan-relawan yang mungkin bisa ikut serta,” katanya.
Kemudian dari hal tersebut, akhirnya Dompet Dhuafa mengusulkan beberapa nama dan diputusan keikut sertaan dalam misi kemanusiaan Indonesia. “Ada tiga orang yang diputuskan dalam tim misi kemanusiaan tersebut yang berangkat melalui laut ada Ronggo dan mas Herman. Kemudian yang melalui darat ada mas Imam,” ungkapnya.
Lalu, lanjut Ia, sisanya melanjutkan perjalanan sampai ke Turki dan bergabung dengan kapal-kapal baru yang berangkat dari Turki dari kawasan Marmaris, Turki. “Iya misi kemanusiaan itu melibatkan 50 kapal dari berbagai negara,” ujarnya.
Namun di gelombang pertama itu ada lima orang Indonesia yang ditangkap dan disandera oleh pihak IDF Israel yaitu, empat orang jurnalis dan satu seorang relawan. “Akan tetapi penangkapan terjadi lagi pada hari berikutnya terhadap rombongan lainnya.Penangkapan terjadi pada tanggal 19, dan itu orang Indonesia. Sisanya empat orang itu juga kemudian ditangkap dan disandera oleh tentara Israel, terdiri dari tiga relawan dan satu jurnalis,” imbuhnya.
“Jadi secara keseluruhan nya, ada sebanyak 428 aktivis dari lebih 50 negara yang dilaporkan turut ditahan dalam operasi tersebut,” tambah Ahmad Juwaini.
Para aktivis akhirnya dibebaskan melalui proses diplomasi internasional yang disebut Ahmad banyak dipengaruhi peran Turki sebagai negara dengan hubungan strategis dengan Israel.
Selanjutnya, dengan adanya cara diplomasi untuk bagaimana caranya untuk pembebasan WNI, Ahmad Juwaini mengatakan pada akhirnya para aktivis dapat dibebaskan melalui proses diplomasi internasional. Dan itu, ucap Ahmad Juwaini, banyak dipengaruhi negara Turki sebagai negara yang diklaim mempunyai hubungan strategis dengan Israel.
Pria berkaca mata ini menyebutkan bahwa negara Turki konon adalah negara yang punya hubungan diplomatik sangat dekat dan intens dengan Israel. “Dan ini membuat posisi negara Turki sangat disegani oleh Israel,” katanya.
Usai dibebaskan sekitar empat hari lalu, di informasikan para relawan misi kemanusiaan Indonesia diterbangkan dari Tel Aviv ke Istanbul untuk menjalani pemeriksaan dan pendokumentasian kondisi mereka selama penahanan oleh Israel. (SR)

















