Jakarta, Merdekaonlinetv.id-Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali digaungkan dalam peringatan Hari Kartini 2026 yang diselenggarakan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Momentum ini tak sekadar menjadi refleksi atas gagasan emansipasi perempuan, tetapi juga langkah strategis menuju pengakuan dunia atas warisan intelektual perempuan Indonesia.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 19 April melalui Fun Walk Berkebaya Nasional yang melibatkan organisasi perempuan, komunitas, hingga masyarakat umum.
Kegiatan ini menjadi simbol kebangkitan identitas, solidaritas, sekaligus upaya melestarikan nilai-nilai budaya Nusantara.
Sehari berikutnya, KOWANI menggelar Renungan Kartini—sebuah refleksi atas pemikiran Kartini yang tertuang dalam buku legendaris Habis Gelap Terbitlah Terang. Karya tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah kesadaran pendidikan dan kesetaraan perempuan di Indonesia.
Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahyanto, menegaskan bahwa pemikiran Kartini tetap relevan hingga kini. Menurutnya, Kartini telah menyalakan kesadaran bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa.
“Pemikiran Kartini jauh melampaui zamannya. Dari gagasan itulah lahir gerakan perempuan yang terus berkembang hingga hari ini,” ujarnya.
Sebagai puncak peringatan, KOWANI menggelar Kick-Off Nasional dan Global “KOWANI Goes to UNESCO Memory of the World” pada 21 April di Jakarta. Inisiatif ini bertujuan mendorong pengakuan internasional terhadap arsip dan sejarah perjuangan perempuan Indonesia melalui program UNESCO Memory of the World.
Tak hanya itu, forum ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pandangan strategis terkait masa depan gerakan perempuan.
Mereka menekankan pentingnya peran perempuan muda dalam kepemimpinan, inovasi sosial, pendidikan, teknologi digital, hingga gerakan lingkungan berkelanjutan.
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai perjuangan Kartini terus hidup dan berkembang melalui perspektif generasi baru yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan perempuan Indonesia.
Menurut Nannie, pengajuan warisan pemikiran perempuan Indonesia ke UNESCO bukan sekadar simbolik, melainkan langkah strategis untuk menempatkan kontribusi perempuan Indonesia dalam sejarah peradaban dunia.
“Perempuan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam membangun bangsa. Kini saatnya warisan pemikiran dan perjuangan itu diangkat ke panggung global,” tegasnya.
Kegiatan ini turut diisi dengan paparan mengenai peradaban perempuan Indonesia, deklarasi nasional, serta konsolidasi organisasi perempuan dari berbagai daerah.
Melalui momentum Hari Kartini 2026, KOWANI mengajak seluruh perempuan Indonesia—termasuk generasi muda—untuk terus melanjutkan semangat Kartini: memperkuat pendidikan, kepemimpinan, solidaritas, serta peran strategis dalam pembangunan bangsa.
“Dari semangat Kartini, kita menyalakan terang bagi masa depan perempuan Indonesia—dan dari Indonesia kita membawa pesan peradaban perempuan ke dunia,” tutup Nannie.

















