Jakarta, Merdekaonlinetv.id – Bertemakan “Prioritaskan Menyusui: Ciptakan Sistem Pendukung yang Berkelanjutan” Dompet Dhuafa melalui Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) nya menggelar seminar dalam rangka memperingati Pekan Menyusui Sedunia 2025.
Seminar yang digelar di Sasana Budaya Gedung Philanthropy, Jakarta, Selasa (26/8) bertujuan untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif dari para ibu kepada bayi nya.
Hadir dalam seminar tersebut antara lain, Yudi Latif selaku Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, dr. Lovely Daisy, MKM, selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, dr. Asti Praborini selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Laktasi sekaligus relawan LKC Dompet Dhuafa, Nia Umar, S.SOS, selaku Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia dan dr. Yeni Purnamasari, MKM, selaku General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa.
Seminar ini akan membahas berbagai isu penting seputar menyusui eksklusif. Dan turut mendukung berbagai kebijakan pemerintah yang telah diterapkan dalam Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif, serta UU Nomor 4 Tahun 2024 tentang kesejahteraan ibu dan anak, yang menekankan pentingnya hak ibu dan anak dalam proses menyusui.
Menurut dr.Lovely Daisy dari Kemenkes RI bahwa menyusui perlu dipromosikan karena berkontribusi pada kesehatan global, mengurangi kematian anak.
“Selain itu, melindungi lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata dr. Lovely Daisy dalam pemaparan nya.
Lebih lanjut, Dokter yang sebagai Direktur Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI ini mengatakan ada tantangan dalam pemberian ASI, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga serta dukungan keluarga dan lingkungan.
“Dukungan keluarga dan lingkungan seperti dukungan dari suami, keluarga dan masyarakat sangat penting bagi ibu dalam pemberian ASI,” terangnya.
Dan bagi seorang ibu yang bekerja, lanjut Ia, tanpa adanya fasilitas pendukung seperti ruang menyusui atau waktu istirahat yang cukup, ini sangat menyulitkan pemberian ASI. “Nah ini juga bagian dari tantangan seorang ibu karena kurangnya dukungan dari tempat kerja dan termasuk tempat atau ruang untuk menyusui. Ini harus diperhatikan,” imbuhnya.
Sementara itu, Nia Umar menjelaskan pemberian ASI eksklusif menjadi salah satu intervensi spesifik dalam penurunan stunting. “Namun masih ada tantangan dalam implementasinya,” sebut Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini.
“Cukupkan bayi dengan ASI eksklusif selama 0-5 bulan. Dan ini harus disesuaikan dengan kelompok umur,” sambungnya.
Untuk diketahui, selain kegiatan seminar, LKC Dompet Dhuafa juga memperkenalkan budaya lokal Banten yakni budaya Baduy yang memiliki praktik menyusui yang sangat erat dengan tradisi budaya Baduy. Sehingga hal tersebut sangat diharapkan dapat menjadi contoh positif dalam mengembangkan budaya menyusui di Indonesia. (SR)